Berita

Pencegahan KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilaporkan beberapa tahun terakhir ini menjadi tren di kalangan masyarakat. Tidak hanya  saja yang  dialami oleh  masyarakat  kelas  bawah tetapi juga masyarakat menengah ke atas bahkan isteri mantan  menteri pun pernah ada  yang melaporkan kasus KDRT yang dialaminya.

Drs M Juhriyadi

Perkembangan kasus KDRT dewasa ini  ada  kecenderungan  meningkat, Badan Pemberdayaan Perempuan  dan Masyarakat Desa   Provinsi Banten pada tahun 2010 berhasil mencatat 210 kasus KDRT baru yang terjadi di  kabupaten dan kota, sementara pada tahun 2011 tercatat 320 kasus. Berarti  kasus KDRT   selama satu tahun terakhir yang dilaporkan mengalami kenaikan sebanyak 50 %. Setiap kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga  menunjukan gejala  bahwa tingkat  ke harmonisan dalam keluarga itu belum baik, padahal seseorang membangun rumah tangga ingin membina keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang  dalam suasana hidup   bahagia  dan  sejahtera.

Dari hasil  rekam  mediasi  yang  dilaksanakan oleh  setiap  Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) yang ada di kabupaten/kota banyak faktor penyebab terjadinya KDRT,  yang paling dominan  adalah persepsi  laki-laki (suami)  tentang status dan peran perempuan  (istri)  dalam  rumah  tangga. Persepsi  yang dibentuk oleh  tata  nilai  budaya patriarki. Suami  diposisikan sebagai  kepala keluarga  diartikan  sebagai  figur pimpinan yang bisa berbuat sewenang-wenang terhadap anggota keluarga  termasuk istri, anak dan pembantu  di rumah. Faktor-faktor  lainnya yang  dapat mempengaruhi  terjadinya KDRT dapat dikelompokan menjadi menjadi dua bagian yaitu, pertama, faktor internal  yaitu tingkat individu.

Pengalaman pada waktu kecil, perilaku dan kebiasaan yang memicu perbuatan  kekerasan  seperti pernah mengalami kekerasan  pada masa kanak-kanak,  menyaksikan kekerasan dalam keluarga antara Ibu dan Bapak, tidak adanya figur ayah atau penolakan terhadap figur ayah dan minum alkohol atau obat-obatan pengalaman tersebut dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan kepribadian serta perkembangan biologis anak untuk melakukan kekerasan.

Kedua, faktor eksternal. Yaitu tingkat status sosial. Kemiskinan atau  status sosial ekonomi  yang  rendah tidak  mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.  Atau sebaliknya  tuntutan gaya hidup mewah yang  tidak sesuai dengan pendapatan keluarga dapat juga memicu terjadinya KDRT. Untuk mengatasi beberapa  faktor  penyebab KDRT  diatas,  maka perlu  dilakukan upaya  bagaimana  mencegah KDRT tidak terjadi,  serta perlu  dikaji  atau diidentifikasi upaya yang mendukung penghapusan KDRT.

Lingkup KDRT
Pengertian  KDRT menurut  pasal 1  UU  Penghapusan KDRT   Nomor 23  Tahun  2004 adalah  ”Setiap perbuatan terhadap seseorang  terutama perempuan yang  berakibat timbul nya kesengsaraan atau penderitaan fisik, seksual, psikologis dan atau  penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau  perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”. Lingkup kekerasan dalam rumah tangga dilihat dari aspek person atau pelaku, yaitu  mere ka yang  tinggal di dalam  rumah  tangga  pelaku.  Menurut pasal 2 UU PKDRT  lingkup rumah tangga adalah suami, istri dan anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana  yang   dimaksud   pada huruf  a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan,  pengasuhan dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga tersebut.

Jenis KDRT
Ada beberapa jenis KDRT yaitu kekerasan fisik, adalah perbuatan yang  mengakibatkan rasa sakit,  jatuh  sakit atau luka berat. Kekerasan psikis, perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau  penderitaan psikis berat pada seseorang. Kekerasan seksual, meliputi: pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang  menetap dalam  lingkup   rumah  tangga  tersebut dan atau  pemaksaan hubungan seksual terhadap seseorang dalam lingkup rumah tangganya, serta pemak saan hubungan seksual terhadap  salah seorang dalam lingkungan rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial  dan atau tujuan tertentu.

Dampak kekerasan  yang  dilakukan suami terhadap  istri atau sebaliknya tidak jarang ber ujung dengan perceraian karena  setiap kekerasan yang dilakukan didalamnya akan  mempengaruhi emosi fisik dan psikis korban, data terakhir dari setiap Pengadilan Agama yang ada di Kabupaten/kota  se Provinsi Banten  angka perceraian  pada tahun 2011  sebanyak 10% dilatarbelakangi oleh adanya KDRT.

Namun pengaruh secara khusus bila seseorang  mengalami KDRT akan  berdampak pada  fisik dan Psikis korban, yaitu secara fisik, bagi korban yang mengalami kekerasan secara fisik akan  terlihat dari perubahan  bentuk fisik,  misalnya lebam  pada permukaan kulit, memar, luka, patah tulang, sehingga  berdampak pada kecacatan,  kehilangan fungsi alat  tubuh atau indra, kerusakan pada organ reproduksi anak bahkan kematian. Secara psikis, korban yang mengalami kekerasan secara psikis  dapat  mengalami gangguan jiwa dari ringan sampai berat, antara lain anak  menjadi  tidak  percaya diri dalam pergaulan sosial, stress, a-sosial, tidak peduli  dengan lingkungan,  menyendiri, depresi, dendam dan emosi yang tidak stabil.

Secara seksual, korban kekerasan dalam rumah tangga  sebagai  akibat  kekerasan seksual terkadang mengalami gangguan  fungsi reproduksi, selain itu  berdampak terhadap jiwa korban sehingga korban mengalami trauma  yang amat sangat  dan tidak percaya diri dalam menatap masa depannya. Keluarga merupakan  institusi  pertama dan utama  dalam membentuk  sistem nilai dalam menanggulangi segala  permasalahan yang  menyangkut kekerasan  terhadap perempuan. meskipun keluarga merupakan  unit terkecil masyarakat,  namun keluarga banyak mempe ngaruhi Perjalanan  hidup seseorang. Pada kasus kekerasan  seksual  terhadap perempuan  misalnya Selalu disebut bahwa keluarga yang tidak peduli dan tidak  melakukan pembina an kepada  pelaku  kekerasan tersebut  tentang  nilai-nilai moral  dan agama serta bahaya dampak  fornografi. Selain itu  kestabilan  dan keharmonisan  keluarga perlu ditanamkan  kepada  setiap  anggota  keluarga guna  memiliki  pemahaman  nilai-nilai  luhur  (agama) untuk saling mengasihi, membantu, menghormati dan menjaga perasaan orang lain.

Penanaman nilai-nilai kehidupan pada anggota keluarga  hendaknya  dimulai ketika  mem bentuk keluarga baru, dalam keluarga  Muslim 1 pasang suami-istri pada saat dinikahkan diharuskan membaca  dan  memahami  sighat taklik  yang mengandung  nilai-nilai tanggungjawab bahwa seorang suami harus memiliki tanggung jawab untuk menafkahi, memiliki tanggung jawab untuk tidak menelantarkan dan memiliki tanggung jawab untuk melindungi.(**)

Penulis adalah Kepala Bidang  Perlindungan Perempuan dan Anak BPPMD Provinsi Banten



0 Komentar


Leave a comment
Contact us

Alamat: JL. Ibus Raya no. 131 (Petisah) Medan

Telepon: 061-4576234

Fax: 061- 4576234

Polling
Apa alat kontrasepsi yang biasa anada gunakan
IUD
Implant
Pil
Kondom

→ Lihat Hasil Poling
Galery